Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah
teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan
bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu
yang cukup lama.
Interpretasi seseorang terhadap
rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung
seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, apengalaman
masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yng dipersepsi seseorang
dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori,
yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan
informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk
menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang
informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu
untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian
dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving
(1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga
bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang
menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik,
yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan
pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi
tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam upaya menjelaskan bagaimana
suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan
kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan
sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler
dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut
umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a.
Bahwa antara
stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana
pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b.
Stimulus
yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk
ataupun isinya.
c.
Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas
yang terbatas.
Dari ketiga asumsi
tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.
Sensory
receptor
Sensory
Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar.
informasi masuk ke sistem melalui sensory
register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya
dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah
terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada
dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.
Working
memory
Pengerjaan
atau operasi informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung
proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu
menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian
perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa;
1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di
dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya
pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk
yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan
jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol.
Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi
tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal.
Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun
semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan
sadar mengendalikannya.
3.
Long term memory
Long Term
Memory (LTM) diasumsikan;
1) berisi semua pengetahuan yang
telah dimiliki
oleh individu,
2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan
3) bahwa sekali informasi disimpan
di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
yang berfungsi sebagai kerangka
untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989)
mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana,
1992).
Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan
tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang
berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.
Menarik
perhatian
2.
Memberitahukan
tujuan pembelajaran kepada siswa
3.
Merangsang
ingatan pada pra syarat belajar
4.
Menyajikan
bahan peransang
5.
Memberikan
bimbingan belajar
6.
Mendorong
unjuk kerja
7.
Memberikan
balikan informatif
8.
Menilai
unjuk kerja
9.
Meningkatkan
retensi dan alih belajar
2.2 Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini
adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut
Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses
kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.
Gagne
membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal
dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan
pembelajaran, yaitu:
a.
Pembelajaran
yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan
dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga
mereka siap untuk menerima pelajaran.
b.
Memulai
pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui
apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c.
Guru
harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d.
Guru siap
untuk menyampaikan materi pelajaran.
e.
Dalam
pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f.
Guru
memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g.
Guru
memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik
dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h.
Mengevaluasi
hasil belajar
i.
Memperkuat
retensi dan transfer belajar.
Model proses belajar yang
dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu
sebagai berikut:
a.
Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan dikenal sebagai
informasi.
b.
Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibunag, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
c.
Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Peristiwa belajar (instructional events) adalah
persitiwa dengan urutan sebagai berikut: menimbulkan minat dan memusatkan
perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan
pembelajaran agar pseerta didik tahu apa yang diharapkan dala pembelajaran itu,
mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang
merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memebrikan bimbingan
atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik,
memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi
belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar.
Suciati dan Irawan menjelaskan sembilan peristiwa
pembelajaran Gagne dalam bentuk bagan sebagai berikut:
No
|
Peristiwa
Pembelajaran
|
Penjelasan
|
1
|
Menimbulkan minat dan
memusatkan perhatian
|
Peserta
didik tidak selalu siap dan fokus pada awal pembelajaran. Guru perlu
menimbulkan minat dan perhatian anak didik melalui penyampaian sesuatu yang
baru, aneh, kontradiktif atau kompleks
|
2
|
Menyampaikan tujuan
pembelajaran
|
Hal ini
dilakukan agar peserta didik tidak menebak-nebak apa yang diharapkan dari
dirinya oleh guru. Mereka perlu mengetahui unjuk kerja apa yang akan
digunakan sebagai indikator penguasaan pengetahuan atau keterampilan
|
3
|
Mengingat kembali
konsep/prinsip yang telah dipelajari yang merupakan prasyarat
|
Banyak
pengetahuan baru yang merupakan kombinasi dari konsep, prinsip atau informasi
yang sebelumnya telah dipelajari, untuk memudahkan mempelajari materi baru
|
4
|
Menyampaikan materi
pembelajaran
|
Dalam
menjelaskan materi pembelajaran, menggunakan contoh, penekanan untuk
menunjukkan perbedaan atau bagian penting, baik secara verbal maupun
menggunakanfitur tertentu (warna, huruf miring, garisbawahi, dsb)
|
5
|
Memberikan bimbingan atau
pedoman untuk belajar
|
Biimbingan
diberikan melalui pertanyaan-pertanyaan yang membiimbing proses/alur pikir
peserta didik. Perlu diperhatikan agar bimbingan tidak diberikan secara
berlebihan
|
6
|
Memperoleh unjuk kerja
peserta didik
|
Peserta
didik diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari, baik untuk
myakinkan guru maupun dirinya sendiri
|
7
|
Memberikan umpan balik
tentang kebenaran pelaksanaan tugas
|
Umpan
balik perlu diberikan untuk membantu peserta didik mengetahu sejauh mana
kebenaran atau unjuk ekrja yang dihasilkan
|
8
|
Mengukur/mengevaluasi
hasil belajar
|
Pengukuran
hasil belajar dapat dilakukan melalui tes maupun tugas. Perlu
diperhatikan validitas dan reliabilitas tes yang diberikan dari hasil
observasi guru
|
9
|
Memperkuat
referensi dan transfer belajar
|
Referensi
dapat ditingkatkan melalui latihan berkali-kali menggunakan prinsip yang
dipelajari dalam konteks yang berbeda. Mondisi/situasi pada saat
transfer belajar diharapkan terjadi, harus berbeda. Memecahkan masalah
dalam suasana di kelas akan sangat berbeda dengan susasana riil yang
mengandung resiko
|
2.3 Tinjauan
Pendekatan Teori Pemrosesan Informasi
Teori kognisi menjelaskan tentang
bagaimana proses mengetahui terjadi pada manusia. Ada beberapa model yang
digunakan untuk menjelaskan proses mengetahui pada manusia. Model pemrosesan
informasi membahas tentang peran operasi-operasi kognitif dalam pengolahan
informasi (Hetherington & Parke, 1986). Dalam model ini manusia dipandang
sebagai labor yang memodifikasi informasi sendiri secara aktif dan
terorganisir. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi berkaitan
dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam aspek ini serta
pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan. Inti dari perkembangan dalam
pemrosesan informasi adalah terbentuknya labor pada diri seseorang yang semakin
efisien untuk mengontrol aliran informasi (Miller, 1993).
Saat ini ada dua model yang dapat
digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi, yaitu model penyimpanan
(store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level of processing).
Model penyimpanan dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin (dalam Miller,
1993), sedangkan model tingkat pemrosesan dikembangkan oleh Craik dan Lockhart
(dalam Miller, 1993). Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh
Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang
terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output).
Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia
sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan
sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan
mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi
pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang
telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila
diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia,
seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya (Vasta, dkk., 1992).
Secara rinci, Pressley, (1990)
memaparkan pemrosesan informasi sebagai berikut: Pertama-tama, manusia
menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya (yaitu
mata, telinga, hidung, dan sebagainya). Beberapa informasi disaring (diabaikan)
pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan ke dalam ingatan jangka
pendek (kesadaran). Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas pemeliharaan
informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses sedemikian rupa
(misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak akan lenyap dengan
cepat. Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek (short-term memory)
dapat ditransfer ke dalam ingatan jangka panjang (long-term memory). Ingatan
jangka panjang (Long-Term Memory) merupakan hal penting dalam proses belajar.
Menurut Anderson (dalam Pressley, 1990), tempat penyimpanan jangka panjang
mengandung informasi labora (disebut pengetahuan deklaratif) dan informasi
mengenai bagaimana cara mengerjakan sesuatu (disebut pengetahuan laborativ).
Menurut pandangan model pemrosesan
informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, sejak kecil seorang
anak mengembangkan fungsi labora dalam mengolah informasi dari lingkungannya.
Menurut Hetherington & Parke (1986), pada usia antara 3 hingga 12 tahun,
fungsi labora seseorang menunjukkan perkembangan yang pesat. Fungsi tersebut
mencakup pengaturan informasi yang diperlukan, termasuk memilih strategi yang
digunakan dan memonitor keberhasilan penggunaan strategi tersebut. Dalam
pandangan model ini, anak merupakan pengatur yang aktif dari fungsi-fungsi
kognitifnya sendiri. Oleh karena itu, dalam menghadapi suatu masalah, anak
memilih masalah yang akan diselesaikannya, memutuskan besar usaha yang akan
dilakukannya, memilih strategi yang akan digunakannya, menghindari hal-hal yang
mengganggu usahanya, serta mengevaluasi kualitas hasil usahanya.
Model pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda laborativ orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya (Hetherington & Parke, 1986).
Model pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda laborativ orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya (Hetherington & Parke, 1986).
Mengingat perkembangan anak
yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika
individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang
tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi. Model
kedua yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah
model tingkat pemrosesan (level of process-ing). Model tingkat pemrosesan yang
dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi
yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan
yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat
pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika akan
lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran
laborativ dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna
(meaning) dari informasi yang diterima (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et
al., 1986).
Menurut model tingkat pemrosesan,
berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara
bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah,
maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang
mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan
yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang
sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di
luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang
mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena
hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak
mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).
Pengulangan (rehearsal) yang
memegang peranan penting dalam pendekatan model penyimpanan juga dianggap
penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun, menurut pandangan
model tingkat pemrosesan, hanya mengulang-ngulang saja tidak cukup untuk
mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan
haruslah bersifat laborative. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah
proses pemberian makna meaning) dari informasi yang masuk. Istilah elaborasi
sendiri mengacu kepada sejauh mana informasi yang masuk diolah sehingga dapat
diikat atau diintegrasikan dengan informasi yang telah ada dalam ingatan (Craik
dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
Telah disebutkan bahwa prinsip dasar
model tingkat pemrosesan informasi adalah semakin besar upaya pemrosesan
informasi selama belajar, semakin dalam informasi tersebut akan disimpan dan
diingat. Prinsip ini telah banyak diaplikasikan dalam penyusunan setting
pengajaran verbal, seperti mengingat daftar kata, juga pengajaran membaca dan
bahasa (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002).
DAFTAR
PUSTAKA
Budiningsih,
Asri. 2004, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Bambang
Warsita. 2008. Teori
Belajar Robert M. Gagne dan Implikasinya Pada Pentingnya Pusat Sumber Belajar. Jakarta: Erlangga
Craik, F. I. M., Lockhart. R. S. 2002.
Levels of Processing. New York:
Cyber Pasific
Hetherington, E. Mavis. Parke,
Ross D. 1986. Child Psychology: A
Contemporary Viewpoint. Singapore: McGraw-Hill, Inc
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology, Theory and Practice.
United State of America: Allyn
& Bacon
Lusiana. 1992. Pengaruh Interaktif antara Penggunaan
Strategi Penataan Isi Mata Kuliah dan Gaya
Kognitif Mahasiswa terhadap Perolehan Belajar. Malang: PPS IKIPMalang
Miller, P. H. 1993. Theories of Developmental Psychology (3rd
Ed.). New York: W. H. Freeman & Co.
Morgan, C. T., dkk. 1986. Introduction to Psychology (7th
Ed). Singapore: McGraw- Hill
Book Company
Pressley, M. 1990. Cognitive Strategy Instruction that Really
Improves Children’s Academic
Performance. Cambridge, MA: Bookline Books
Suciati. Irawan. 2001. Teori
Belajar dan Motiva., Jakarta: Depdiknas, Ditjen PT. PAUUT
Vasta, dkk. 1992. Child Psychology: The Modern Science.
New York: John Wiley & Sons
Terkadang kita sering kesulitan dalam mengingat suatu hal. Bagaimana cara kita agar mudah dalam mengingat sesuatu ?
BalasHapussedikit menambahkan
BalasHapusMenurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
sedikit menambahkan
HapusMaksud gambar yang anda jelaskan dari panca indra kita, informasi dimasukkan kedalam memori kita lalu dengan adanya perhatian kita memilih dari sekian banyak informasi yang kita terima sehingga masuk ke memory jangka pendek kita lalu dilakukan terus latihan atau pengulangan sehingga ia akan menjadi memori jangka panjang.Namun jika tidak adanya pengulangan maka informasi yang diterima akan mudah dilupakan. Untuk mudah dingat bisa dilakukan dengan pengkodean mengenai informasi yang didapat yang sudah masuk di memori jangka pendek.
Di lakukan pengulangan karena Pengulangan (rehearsal) yang memegang peranan penting dalam pendekatan model penyimpanan juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun, menurut pandangan model tingkat pemrosesan, hanya mengulang-ngulang saja tidak cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan haruslah bersifat laborative. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah proses pemberian makna meaning) dari informasi yang masuk. Istilah elaborasi sendiri mengacu kepada sejauh mana informasi yang masuk diolah sehingga dapat diikat atau diintegrasikan dengan informasi yang telah ada dalam ingatan (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusApa yang menyebabkan suatu informasi tidak dapat masuk kedalam memori jangka panjang?
BalasHapusbagaimana cara agar informasi selalu berada dalam longterm memory?
BalasHapusSebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya saat kita mendengar seseorang yang mengatakan, “Atun dihina oleh Nana sampai sakit hati”, maka kita tidak hanya mengerti arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari keseluruhan kalimat tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata-kata lain yang unsurnya sama, seperti “Nana dihina Atun sampai sakit hati”, maka kita tahu bahwa yang terjadi sekarang berbeda dari yang pertama. Dalam kedua kalimat tersebut kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam keseluruhan kalimat itu, maka kita sedang melakukan semantic coding; tetapi kalau kita membayangkan reaksi dari Atun atau Budi dalam peristiwa itu, maka kita melakukan imagery coding.
BalasHapusJadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusInformasi tersebut harus betul-betul bermakna dan berkesan serta di lakukan pengkodean dan pengulangan agar informasi itu mudah di panggil kembali jika kita akan menggunakan informasi tersebut
BalasHapusfaktor apa yang mempengaruhi informasi hanya masuk sampai tahap short term memory dan tidak sampai pada tahap penyimpanan long term memory?
BalasHapusIngatan jangka pendek adalah tempat kita menyimpan ingatan yang baru saja kita pikirkan. Ingatan yang masuk dalam memori sensoris diteruskan kepada ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek berlangsung sedikit lebih lama dari memori sensoris, selama anda menaruh perhatian pada sesuatu, anda dapat mengingatnya dalam ingatan jangka pendek.
BalasHapusDari ingatan jangka pendek ini, ada sebagian materi yang hilang, sebagian lagi diteruskan ke dalam ingatan jangka panjang. Jika kita mengingat kembali akan suatu informasi, informasi dari ingatan jangka panjang tadi akan dikembalikan ke ingatan jangka pendek. Misal, pada nomor telepon yang telah anda ulang terus sampai anda bisa menuliskannya, dan nomor tersebut akan tetap tersimpan dalam memori anda selama anda aktif memikirkannya. Jika anda berhenti memberikan perhatian pada itu, maka akan terhapus dalam waktu 10-20 detik.
Pada Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar, jelaskan mengenai memerikan balikan informatif !
BalasHapusUmpan balik perlu diberikan untuk membantu peserta didik mengetahu sejauh mana kebenaran atau unjuk ekrja yang dihasilkan
HapusBerdasarkan teori pemrosesan informasi ini terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para guru:
BalasHapus1.Perhatian sangat penting, oleh karena itu selalu upayakan agar siswa anda benar-benar
memperhatikan pelajaran. Meskipun mereka tampak melihat anda, namun belum tentu pikiran mereka perhatian kepada apa yang anda jelaskan.
2.Sebaiknya lebih mengutamakan belajar dengan memahami dari pada melalui hafalan.
Berdasarkan artikel anda mengenai asumsi teori pembelajaran "Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas", tahapan apa yang mempunyhai kapasitas terbatas?
BalasHapus