Landasan Teoritis Multimedia pembelajaran
Pembelajaran
pengertian multimedia
Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi, audio dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia informatika. Selain dari dunia informatika, multimedia juga diadopsi oleh dunia game, dan juga untuk membuat website.
Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri atau otodidak. Di dunia bisnis, multimedia digunakan sebagai media profil perusahaan, profil produk, bahkan sebagai media kios informasi dan pelatihan dalam sistem e-learning.
pengertian media pembelajaran menurut para ahli
pengertian multimedia
Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi, audio dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia informatika. Selain dari dunia informatika, multimedia juga diadopsi oleh dunia game, dan juga untuk membuat website.
Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri atau otodidak. Di dunia bisnis, multimedia digunakan sebagai media profil perusahaan, profil produk, bahkan sebagai media kios informasi dan pelatihan dalam sistem e-learning.
pengertian media pembelajaran menurut para ahli
- Menurut Heinich, Molenida, dan Russel (1993) berpendapat bahwa “teknologi atau media pembelajaran sebagai penerapan ilmiah tentang proses belajar pada manusia dalam tugas praktis belajar mengajar.
- Menurut Ali (1992) berpendapat bahwa “Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapar memberikan rangsangan untuk belajar”.
- Menurut Gagne (1990) berpendapat bahwa “Kondisi yang berbasis media meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada para pembelajar dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasian.
- Menurut Miarso (2004) berpendapat bahwa “Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar”.
- Menurut Arif S. Sadirman (1984) berpendapat bahwa “Media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti Filn, buku, dan kaset.
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan minat si penerima pesan. Di dalam proses
penyampaian informasi ini dengan menggunakan saluran (media) maka komunikasi akan menerima informasi/pesan tersebut melalui
kelima panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan
pengecap).
Ada
beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain
landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
- Landasan filosofis
Ada suatu
pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru
di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi.
Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi
dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi
kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan
kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting
bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru
menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga
diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,
maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses
pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
- Landasan psikologis
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut, perlu:
1. diadakan pemilihan media yang tepat sehingga
dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya,
2. bahan pembelajaran yang akan diajarkan
disesuaikan dengan pengalaman siswa.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih
mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan
kontinum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran,
ada beberapa pendapat.
- Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
- Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
- Ketiga, Edgar Dale, membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi
dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian
nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang
disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang
disajikan dengan simbol.
Salah satu gambaran yang paling banyak digunakan
acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam pembelajaran adalah kerucut
pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience)
. Dalam
menentukan jenjang konkrit ke abstrak antara Edgar Dale dan Brunner pada
diagram jika disejajarkan ada persamaanya, namun antara kedua sebenarnya
terdapat perbedaan konsep. Dale menekankan siswa sebagai pengamat kejadian
sehingga menekankan stimulus yang dapat diamati, Brunner menekankan pada proses
operasi mental siswa pada saat mengamati objek.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki
kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media
tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi
memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale
diatas mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan
diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung,
pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar
yang bersifat abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta
didik dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan
menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan
peserta didik sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga
dipahami sebagai pesan (decoding).
- Landasan teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi
komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya
berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang
semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola
tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat. Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam
pendidikan. Banyak yang dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang
membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan sehingga dapat membantu
siswa belajar secara individual dengan efektif dan efisien.
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
1.Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more
productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara
lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk
menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam
menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan
kegairahan belajar siswa.
2.Memberikan
kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education
more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain
dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses
pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai
dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
3.Memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more
scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis,
pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik
siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan
disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
4.Lebih
memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
5.Dengan
media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make
learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta
didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan
waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak
secara langsung.
5.Memungkinkan
penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education
more equal)
- Landasan empiris.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa
terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik
belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan
mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media
yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki
tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran
menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara
siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media
audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan
media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan
kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan
karakteristik media itu sendiri.
Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Gerlach
dan Ely telah mengungkapkan betapa media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam
kegiatan belajar mengajar. Pada tahun 1971, mereka telah mengemukakan bahwa
media pembelajaran dalam dunia pendidikan dapat berperan penting. Media
pembelajaran dapat menggantikan peran guru yang tidak dapat guru lakukan.
Media pembelajaran memiliki paling tidak memiliki 3 ciri penting, yaitu:
(1) ciri fiksatif;
(2) ciri manipulatif; dan
(3) ciri
distributif. Berikut kita bahas secara lebih mendetail satu per satu.
- Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Media
pembelajaran memiliki kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan
merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Banyak kejadian-kejadian penting
atau objek-objek yang harus dipelajari oleh siswa. Kejadian-kejadian itu tentu
saja sering kali sudah berlalu, misalnya saja peristiwa-peristiwa bersejarah
yang terjadi di suatu negara. Siswa dapat mepelajari bagaimana peristiwa atau
kejadian-kejadian itu melalui rekaman video dokumentasi, dan foto-foto.
Objek-objek biotik ataupun abiotik yang unik dan harus dipelajari oleh siswa
dapat dihadirkan dengan gampang diruang kelas dengan rekaman video atau foto.
Peristiwa dan objek-objek pembelajaran dengan demikian dapat dihadirkan setiap
waktu jika dikehendaki.
- Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Kejadian
yang berlangsung berhari-hari bahkan bertahun-tahun dapat disajikan dalam waktu
beberapa menit saja. Banyak peristiwa atau objek yang sulit diamati secara
langsung dengan mudah diamati melalui media pembelajaran berupa rekaman video
dan foto. Bayangkan, siswa dapat mempelajari bagaimana proses pertumbuhan dan
perkembangan embrio di dalam kandungan ibu hanya dalam waktu 10 sampai 15
menit. Proses ini aslinya berlangsung selama 9 bulan di dalam tubuh ibu. Dengan
bantuan teknologi khusus dan proses perekaman yang kemudian dilakukan
manipulasi, waktu dapat dipersingkat dengan mempercepat dengan hanya
menampilkan kejadian-kejadian penting saja. Selain itu, bahkan proses dapat
diputar balik dan diulang-ulang. Kejadian yang berlangsung cepat juga dapat
diperlambat. Teknologi telah menjadikan media pembelajaran mempunyai peranan
yang amat penting untuk memberikan pemahaman akan suatu peristiwa atau objek
bagi siswa. Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil rekaman
dapat menghemat waktu.
- Ciri Distributif (Distributive Property)
Dengan
penggunaan media pembelajaran, kejadian atau objek pada suatu tempat dapat
disebarkan ke tempat lain dengan mudahnya. Rekaman film dan foto, pada era
digital sekarang dengan sangat mudah didistribusikan tanpa terkendala ruang dan
waktu. Kejadian di daerah-daerah yang sulit atau bahkan tidak mungkin
dikunjungi oleh siswa dapat dihadirkan di ruang kelas mereka tanpa memerlukan
banyak usaha keras. Penggunaan internet atau perangkat penyimpan data seperti
flashdisk, CD, dan sebagainya memudahkan bahan-bahan pembelajaran tersebut
didistribusikan. Konsistensi informasi yang terdapat didalamnya akan selalu
terjaga sebagaimana aslinya.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali
https://id.wikipedia.org/wiki/Multimedia
Jelaskan bagaimana cara menyesuaikan bahan pembelajaran yang diajarkan dengan pengalaman siswa?
BalasHapusBagaimana menurut anda pemilihan suatu media yang efektif untuk diterapkan pada proses pembelajaran?
BalasHapussaya ingin menambahkan sedikit
BalasHapusMenurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
dalam materi koloid yang bersifat hapalan, apakah penggunaan multimedia tetap perlu digunakan?
BalasHapusmenurut anda landasan mana yang paling penting dalam multimedia pembelajran?
BalasHapusYaitu di lakukan analisis kebutuhan terhadap siswanya,yaitu dengan bertanya tentang pengalaman yang sudah di dapat mengenai materi yang akan di ajarkan, apakah mereka sudah betul-betul paham atau belum lantas mengapa kok belum paham,dari situ nantinya si guru menyesuaikan bahan ajar yang akan dibuatnya dengan pengalaman siswa nya
BalasHapusAdapun kriteria pemilihan media pembelajaran yang benar adalah :
BalasHapusTopik menarik bagi siswa
Materi dalam media penting bagi siswa
Relevan dengan kurikulum yang berlaku
Materinya autentik dan faktual
Fakta atau konsepnya benar
Format sistematis dan logis
Objektif berorientasi kepada kebutuhan siswa
Narasi, gambar, efek, warna dan sebagainya memenuhi syarat kualitas
Bahasa, ilustrasi, simbol komunikatif
Sudah teruji daya dukungnya
Jika sudah memenuhi kriteria tersebut menurut saya suatu media itu sudah efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran
Menurut saya tetap perlu digunakan karena untuk lebih memperkuat pemahaman siswa.
BalasHapusMenurut saya semua landasan tersebut penting semua dan dan harus di jalankan secara seimbang antara landasan yang satu dengan landasan yang lain
BalasHapusjelaskan beserta contoh mengapa multimedia pembelajaran sangat diperlukan?
BalasHapusSaya sedikit menambahkan Landasan Historis
BalasHapusLandasan historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar. Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.
Karena kita hidup di zaman modern yang dulunya kita tidak mungkin bisa mempelajarinya karena materinya bersifat abstak tetapi sekarang kita bisa mempelajarinya dengan menggunakan multimedia,contohnya yaitu struktur atom yang terdiri dari proton neutron dan elektron
BalasHapusberikan contoh dari jenjang konkrit-abstrak menurut edgar dale
BalasHapusEdgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
Hapusberikan satu contoh media yang memenuhi semua landasan diatas serta penjelasannya?
BalasHapus